Tampilkan postingan dengan label LOCAL FOOD. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label LOCAL FOOD. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 November 2019

LOCAL FOOD #6

1. CILOK 

Cilok Makanan Khas Jawa Barat yang Membumi
mamang.id

Cilok adalah sebuah makanan khas Jawa Barat yang terbuat dari tapioka yang kenyal dengan tambahan bumbu pelengkap seperti sambal kacang, kecap, dan saus. Cilok bentuknya bulat-bulat seperti bakso, hanya saja berbeda bahan dasarnya. Makanan ini berasal dari Indonesia khususnya dari daerah Jawa Barat atau Kota Bandung. Terdapat telur atau daging cincang di dalamnya, karena terbuat dari bahan dasar tepung tapioka maka cilok terasa kenyal saat dikonsumsi. Pembuatnya adalah suku Sunda. Tidak hanya sebagai makanan ringan yang enak, cilok juga dapat menjadi sebuah peluang usaha. Rata - rata pedagang cilok adalah pedagang kaki lima (PKL) yang sering berpindah-pindah, dan rata - rata berjualan di sekitar sekolah, kampus, dan pabrik.
Bahan bakunya antara lain tepung kanji, bumbu bawang, dan beberapa bahan lainnya. Lalu dicampur dengan dading ayam atau sapi dengan menggunakan air. Kemudian direbus dan dibentuk bulat - bulat kecil seperti pentol bakso. Cilok adalah lakuran dari kata aci dan dicolok. Dinamakan demikian dikarenakan bahan utamanya adalah tepung tapioka yang dalam bahasa Sunda disebut aci, dan biasanya dihidangkan dengan cara dicolok.
Di dalam terdapat telur puyuh atau telur ayam yang dipotong – potong dan cincang daging. Sedangkan sebagai penyedap atau gurih dan kenyalnya cilok selain tepung tapioka juga dicampurkan telur dan potongan ikan kakap yang menjadi lebih enak dan lezat saat di konsumsi.
Manfaat atau khasiat dari makanan ini yang menggunakan bahan dasar tepung tapioka yang banyak mengandung akan kandungan selenium, tembaga, mangan, besi, kalsium, asam folat, asam pantotenat, serat, hingan vitamin B6. Kandungan serat pada tepung tapioca inilah yang disebut - sebut bias mencegah konstipasi, kanker usus besar, sekaligus melancarkan pencernaan. Serta khasiat lain tepung tapioka baik untuk kesehatan tulang karena mengandung zat besi dan vitamin K, dapat menjaga berat badan tetap ideal karena tidak memiliki kandungan kolesterol atau lemak jenuh sehingga cukup aman untuk di konsumsi, dapat menjaga tekanan darah karena kandungan kalium ternyata bias menurunkan stress pada pembuluh darah dan juga arteri, dan mencegah anemia karena kandungan zat besi bisa membuat kita mencegah anemia sekaligus menjaga kelancaran sirkulasi darah.
Dahulu cilok merupakan makanan sederhana, yang hanya di jajakan di halaman sekolah (SD, SMP, SMA), di pinggir jalan dan di warung – warung pedesaan serta harganyapun sangat murah karena sasaran utamanya kebanyakan anak – anak tetapi juga remaja hingga orang dewasapun juga banyak yang menyukai makanan ini.
Sedangkan pada jaman sekarang cilok mengalami perkembangan karena banyak orang – orang kreatif yang mencoba memodifikasi makanan sederhana menjadi makanan sekelas internasional, baik dari rasanya, bumbunya, dan tampilannya. Sehingga sudah banyak makanan yang tadinya hanya di jajakan dipinggir jalan (PKL) tapi sekarang sudah menempati buku menu restoran – restoran besar, termasuk cilok ini.

2. CIRENG

Hasil gambar untuk cireng adalah

Cireng adalah jenis makanan ringan yang berasal dari daerah Sunda. Cireng ini dibuat dengan cara menggoreng campuran adonan yang bahan utamanya adalah tepung kanji atau tepung tapioka.
Cireng ini adalah singkatan dari aci goreng. Aci goreng ini adalah bahasa sunda untuk tepung kanji goreng. Makanan yang satu ini bisa dibilang sangat populer di daerah Priangan. Selain itu cireng ini dijual dalam berbagai bentuk dan juga variasi rasa.
Seiring perkembangan zamana, banyak inovasi yang dilakukan untuk cireng ini, baik secara rasa maupun bentuknya. Bahkan saat ini cireng tidak hanya ada di Priangan saja, namun sudah menyebar hampir ke seluruh penjuru Nusantara. 
Sejarah 
cireng sudah ada sejak era tahun 80an. Saat itu, cireng menjadi jajanan yang dijual oleh para pedagang kaki lima pinggir jalan di daerah Priangan.
Terbuat dari tepung aci atau tepung tapioka dan diberi bumbu yang kemudian dimasak dengan cara digoreng, ternyata makanan ini memiliki banyak penggemar. Rasanya yang khas dan tampilannya yang unik dengan berbagai bentuk membuat banyak orang dengan mudah mengenalnya.
Meski populer sejak era tahun 80an, tidak diketahui secara pasti siapa pembuat cireng pertama kali. Pada tahun itu, cireng sudah mulai populer dan disukai banyak orang. Seiring dengan berjalannya waktu, cireng terus mengalami penyebaran. Jajanan ini meluas tak hanya di daerah Priangan saja tetapi hampir ke seluruh penjuru Nusantara.
Kini, cireng bahkan telah berkembang dengan berbagai varian rasa. Sajian cireng juga bervariasi dengan tambahan aneka saus. Bahkan, beberapa orang mencoba meraup untung dengan jual beli cireng frozen atau cireng yang dibekukan dan siap digoreng.
Source : 

Minggu, 10 November 2019

LOCAL FOOD #5

1. PEMPEK 
Hasil gambar untuk Pempek

Pempek atau empek-empek adalah makanan khas Palembang yang terbuat dari daging ikan yang digiling lembut dan tepung kanji (secara salah kaprah sering disebut sebagai "tepung sagu"), serta beberapa komposisi lain seperti telur, bawang putih yang dihaluskan, penyedap rasa dan garam. Sebenarnya sulit untuk mengatakan bahwa penganan pempek pusatnya adalah di Palembang karena hampir semua daerah di Sumatera Selatan memproduksinya.
Pempek bisa ditemukan dengan sangat mudah di seantero Kota Palembang; ada yang menjual di restoran, ada yang di pinggir jalan, dan juga ada yang dipikul. Tahun 1980-an, penjual biasa memikul satu keranjang penuh pempek sambil berjalan kaki berkeliling menjajakan makanannya.

Jenis pempek yang terkenal adalah "pempek kapal selam", yaitu pempek yang diisi dengan telur ayam dan digoreng dalam minyak panas. Ada juga yang lain seperti pempek lenjer, pempek bulat (atau terkenal dengan nama "ada'an"), pempek kulit ikan, pempek pistel (berisi irisan pepaya muda rebus yang sudah ditumis dan dibumbui), pempek telur kecil, dan pempek keriting.
Dari satu adonan pempek, ada banyak makanan yang bisa dihasilkan, bergantung baik pada komposisi maupun proses pengolahan akhir dan pola penyajian. Di antaranya adalah laksan, tekwan, model, celimpungan dan lenggang. Laksan dan celimpungan disajikan dalam kuah yang mengandung santan; sedangkan model dan tekwan disajikan dalam kuah berisi kepingan jamur kuping, kepala udang, bengkuang, serta ditaburi irisan daun bawang, seledri, dan bawang goreng dan bumbu lainnya. Varian baru juga sudah mulai dibuat orang, misalnya saja kreasi pempek keju, pempek baso sapi, pempek sosis serta pempek lenggang keju yang dipanggang di wajan anti lengket, serta sekarang warga Palembang pun membuat pempek dengan bahan dasar terigu dan nasi sebagai pengganti ikan.

Sejarah 
Menurut sejarahnya, pempek telah ada di Palembang sejak masuknya perantau Tionghoa ke Palembang, yaitu di sekitar abad ke-16, saat Sultan Mahmud Badaruddin II berkuasa di kesultanan Palembang-Darussalam. Nama empek-empek atau pempek diyakini berasal dari sebutan apek atau pek-pek, yaitu sebutan untuk paman atau lelaki tua Tionghoa.
Berdasarkan cerita rakyat, sekitar tahun 1617 seorang apek berusia 65 tahun yang tinggal di daerah Perakitan (tepian Sungai Musi) merasa prihatin menyaksikan tangkapan ikan yang berlimpah di Sungai Musi yang belum seluruhnya dimanfaatkan dengan baik, hanya sebatas digoreng dan dipindang. Ia kemudian mencoba alternatif pengolahan lain. Ia mencampur daging ikan giling dengan tepung tapioka, sehingga dihasilkan makanan baru. Makanan baru tersebut dijajakan oleh para apek dengan bersepeda keliling kota. Oleh karena penjualnya dipanggil dengan sebutan "pek … apek", maka makanan tersebut akhirnya dikenal sebagai empek-empek atau pempek.[1]
Namun, cerita rakyat ini patut ditelaah lebih lanjut karena singkong baru diperkenalkan bangsa Portugis ke Indonesia pada abad 16, sementara bangsa Tionghoa telah menghuni Palembang sekurang-kurangnya semenjak masa Sriwijaya. Selain itu velocipede (sepeda) baru dikenal di Perancis dan Jerman pada abad 18. Dalam pada itu Sultan Mahmud Badaruddin baru dilahirkan tahun 1767. Walaupun begitu memang sangat mungkin pempek merupakan adaptasi dari makanan Tionghoa seperti bakso ikan, kekian atau pun ngohiang.

2. BATAGOR 
Hasil gambar untuk Batagor

Batagor (akronim dari bakso tahu goreng)  merupakan jajanan khas Bandung yang mengadaptasi gaya Tionghoa-Indonesia dan kini sudah dikenal hampir di seluruh wilayah Indonesia.
Secara umum, batagor dibuat dari tahu yang dilembutkan dan diisi dengan adonan berbahan Ikan tenggiri dan tepung tapioka lalu dibentuk menyerupai bola yang digoreng dalam minyak panas selama beberapa menit hingga matang. Variasi lainnya yaitu siomay, digoreng dan dihidangkan bersama batagor dan dikombinasikan dengan bumbu kacang, kecap manis, sambal, dan air perasan jeruk nipis sebagai pelengkap.

Sejarah : 
Bermula dari seorang bernama Isan yang memulai usaha baru di rumah kontraknya, Gang Situ Saeur, Bandung, pada perkiraan tahun 1970-1980an. Isan muda adalah anak perantauan asal Purwokerto (Jawa Tengah) yang mengadu nasib ke kota Bandung dengan niat mencari pekerjaan.
Ternyata mencari pekerjaan di Bandung tidaklah mudah, sementara Isan pun menyadari bahwa dirinya tidak memiliki bekal pengetahuan dan ketrampilan yang memadai. Ia sempat lontang lantung selama tiga bulan tanpa ada yang mau menerimanya bekerja.
Sekadar untuk mengisi waktu dan tidak menganggur,Isan memutuskan untuk ikut jualan baso keliling. Selama bertahun-tahun Isan melakoni masuk-keluar gang dengan pikulan dagangannya. Suatu ketika Isan mengalami dalam seharian itu dagangan tidak habis. Yang segera terpikirkan bahwa tentu dagangannya tak bisa dijual lagi keesokan harinya karena dipastikan telah basi. Untuk membuang dagangannya yang tak laku itu pun dirasakannya berat dan tentu saja sayang.
Saat itu Isan berpikir praktis saja; baso tahu kukus yang tidak habis itu segera ia goreng, hasil gorengannya kemudian ia bagi-bagikan secara cuma-cuma ke para tetangga dekat sekitar kontrakannya di Gang Situ Saeur, jalan Kopo, Bandung. 74
Berbagi atau setiap mengalami dagangannya tak habis terjual kemudian menggoreng dan membagikannya kepada para tetangga pun terus menjadi tradisi yang dilakukan Isan bertahun-tahun Sikap kedermawanan Isan kepada tetangga kian dikenal, dan rupanya para tetangga sudah mulai ketagihan oleh baso gorengnya. Maka ketika dagangan baso kukusnya laris, teman dan para tetangganya kerapmenanyakan baso tahu goreng yang biasanya ia bagi-bagikan itu.
Di kemudian hari bahkan di antara mereka bermaksud membeli dan/atau tidak mau lagi mendapatkan gratisan. Sejak itu pula Isan atau pun para tetangga menyebut baso tahu goreng bikinan Isan itu dengan akronim “batagor.”
Isan belakangan memutuskan untuk mulai merintis menjual baso tahu kukus yang digoreng pada tahun 1968. Setelah beberapa lama usaha rintisannya itu berjalan, pembeli dan pelanggannya ternyata kian berkembang, Isan mulai merasa kerepotan dalam hal proses dua tahap yaitu membuat terlebih dahulu baso tahu kukus baru kemudian menggorengnya. Isan melakukan percobaan dan kemudian mengubah cara, yaitu dengan mematangkan tanpa dikukus terlebih dahulu, melainkan dari adonan mentahnya langsung digoreng. Moda atau teknik inilah yang kemudian menjadi acuan umum pembuatan batagor.
Usaha Isan pun kian berkembang, tak hanya masyarakat sekitar bahkan orang-orang dari daerah yang berjauhan pun mulai berdatangan untuk menikmati batagornya. Mulai pada tahun 1985 warung di tempat kontrakannya dirasakan tak memadai lagi untuk bisa menampung pelanggan, Isan kemudian pindah ke jalan Bojongloa No. 38 yaitu ke sebuah rumah yang relatif lebih luas.
Usaha batagor Isan kian berkembang, dari hasil dagangnya antara lain ia berkesempatan dua kali ke tanah suci yaitu pada tahun 1991 dan 2003. Sepulang dari ibadah haji, merk dagangnya yang semula Batagor Isan diubah menjadi Batagor H. Isan, seperti yang kita kenal sekarang. H. Isan wafat pada tahun 2010 dalam usia 79 tahun, usaha dagannya diserahkan kepada salah satu keponakannya yaitu H. Suwarto karena H. Isan tidak memiliki anak kandung.
Batagor H. Isan kini telah memiliki cabang di beberapa tempat antara lain di jalan Cikawao, jalan Lodaya, jalan Ciateul dan beberapa tempat lain di Bandung.

Source : 

Sabtu, 09 November 2019

LOCAL FOOD #4

1. COTO 


Coto makassar atau coto mangkasara adalah makanan tradisional Makassar, Sulawesi Selatan. Makanan ini terbuat dari jeroan (isi perut) sapi yang direbus dalam waktu yang lama. Rebusan jeroan bercampur daging sapi ini kemudian diiris-iris lalu dibumbui dengan bumbu yang diracik secara khusus. Coto dihidangkan dalam mangkuk dan dinikmati dengan ketupat dan "burasa" atau yang biasa dikenal sebagai buras, yakni sejenis ketupat yang dibungkus daun pisang.
Coto makassar diperkirakan telah ada semenjak masa Kerajaan Gowa di abad ke-16.Dahulu hidangan coto bagian daging sapi sirloin dan tenderloin hanya disajikan untuk disantap oleh keluarga kerajaan. Sementara bagian jeroan disajikan untuk masyarakat kelas bawah atau abdi dalem pengikut kerajaan.
Saat ini coto mangkasara sudah menyebar ke berbagai daerah di Indonesia, mulai di warung pinggir jalan hingga restoran. Masyarakat umum juga menyukai bagian daging sapi atau kerbau yang terletak di bagian punggung (sirloin) itu. Sementara beberapa penjual memberi pilihan daging sapi atau jeroan, atau campuran keduanya, untuk dihidangkan.
Sejak bulan November 2008 coto makassar telah dipilih sebagai salah satu menu yang dihidangkan pada penerbangan domestik Garuda Indonesia dari dan ke Makassar.
Umumnya daging yang digunakan dalam coto ini adalah daging sapi. Namun ada pula yang menggunakan berbagai macam daging jeroan sapi seperti lidah, otak, limpa, paru, hati, jantung, babat dan lain-lain.
Konon, diperlukan sekitar 40 macam rempah untuk membuat coto makassar, yang disebut ampah patang pulo. Aneka bumbu itu, di antaranya adalah bawang merah, bawang putih, cabai, biji-bijian dan bebungaan (lada, ketumbar, jintan, kemiri, pala, foeli, cengkih), dedaunan (daun salam, daun jeruk purut, daun kunyit, daun serai, daun seledri, daun bawang, daun bawang prei), rerimpangan (lengkuas, jahe), serta pelbagai bumbu lain seperti asam, garam, gula, kayu manis, dan juga tauco. Kacang tanah, irisan daun bawang dan bawang goreng, serta perasan jeruk nipis dicampurkan pada saat dihidangkan.

Sejarah 
Dilihat tahunnya, coto Makassar sudah sangat lama ada di Makassar. Banyak versi tentang awal mula masakan ini. Ada yang mengatakan berawal dari racikan koki kerajaan untuk disajikan kepada keluarga bangsawan kerajaan Gowa, dan di saat upacara adat. 
Namun ada pula yang beranggapan bahwa coto ini pertama kali dibuat oleh rakyat jelata, yang dibuat khusus untuk pengawal kerajaan, dan disajikan di kala pagi hari.
Cita rasa dari coto makassar sebenarnya tidak seperti yang bisa kita rasakan saat ini. Namun, perpaduan dari sambal tao-co membuat soto ini menjadi sempurna. 
Kehadiran pedagang-pedagang cina, membuat mereka memadukan makanan lokal dengan bumbu yang mereka bawa dari negerinya. Juga disesuaikan dengan bumbu rempah yang mudah mereka dapatkan di Makassar.
Yang membedakan soto dengan coto adalah kerumitan rempahnya. Untuk membuat kuah coto, membutuhkan 40 macam rempah, dan inni bukanlah jumlah yang sedikit. Banyaknya jenis rempah yang dipakai mengikuti selerang orang-orang Makassar saat itu yang senang membuat masakan yang kaya akan rempah.
Selain sebagai penyedap dan penyempurna rasa, penggunaan ke 40 rempah itu juga untuk penyeimbang dari dampak yang ditimbulkan oleh jeroan. Beberapa rempat yang dipilih dipercaya bisa menurunkan kolesterol.
Keberadaaan berbagai soto di Indonesia diduga kuat terinspirasi dari pengaruh coto Makassar yang dibawa oleh para pelaut Bugis Makassar yang telah melanglang buana di seluruh penjuru negeri.
2. PALLUBASA

Pallubasa adalah makanan tradisional Makassar, Sulawesi Selatan. Seperti Coto Mangkasara (Coto Makassar), Pallubasa juga terbuat dari jeroan (isi dalam perut) sapi atau kerbau. Proses memasaknya pun hampir sama dengan Coto Makassar, yaitu direbus dalam waktu lama. Setelah matang, jeroan yang ditambah dengan daging itu diiris-iris, kemudian ditaruh/dihidangkan dalam mangkuk.
Dahulu, Pallubasa dengan daging sapi sirloin dan tenderloin hanya disajikan untuk disantap oleh keluarga kerajaan, sementara bagian jeroan disajikan untuk masyarakat kelas bawah atau abdi dalem pengikut kerajaan. Kini, penjual-penjual Pallubasa memberikan bermacam-macam pilihan daging sapi atau jeroan untuk dihidangkan.
Yang membedakan Pallubasa dengan Coto Makassar adalah bumbunya yang diracik khusus. Selain itu, Coto Makassar dimakan bersama ketupat, sementara Pallubasa dimakan bersama nasi putih.

Konon awal mula makanan ini, hanya diperuntukkan untuk kelas pekerja seperti kuli bangunan, tukang becak, dan kelas pekerja lainnya. Mengapa demikian, karena pada masa itu pallu basa merupakan makanan termurah yang hanya dapat dijangkau oleh para pekerja.

Jika dilihat dari aspek bahan dasanya, dapat disimpulkan bahwa orang Makassar memang doyan makan daging. Apalagi disajikan dengan rempah-rempah yang khas, kuat, dan memiliki cita rasa yang tinggi.

Daging dikenal dengan kandungan protein dan korestrol yang tinggi, sehingga dapat membuat tekanan darah menjadi tinggi. Itulah mengapa orang Makassar kebanyakan berwatak kasar.

Demikian beberapa sejarah masakan khas Makassar yang berbahan dasar daging seperti dilansir dari berbagai sumber. Jangan lupa nyicip makanan legendaris khas ini jika datang berkunjung ke kota daeng.

Source : 

Senin, 09 September 2019

LOCAL FOOD #3

1. Opor Ayam


Opor ayam adalah masakan ayam berkuah santan yang sangat terkenal diseluruh Indonesia, Terutama didaerah Jawa tengah dan juga Jawa Barat. Masakan yang satu ini terbuat dari bahan utama daging ayam yang dimasak dengan aneka rempah-rempah, dan santan kental yang dihasilkan dari buah kelapa.

​Sampai saat ini, tidak ada satupun peneliti kuliner dan referensi yang bisa menjelaskan “opor ayam” itu berasal dari mana, sejak kapan ada di Indonesia, siapa penemunya, siapa peramu awalnya, mulai kapan menyebar hampir di seluruh wilayah Nusantara, tidak seorangpun yang tahu, hanya disebutkan “resep warisan leluhur”. Praduga inipun hanya berdasarkan imajinasi saya sendiri, didasari beberapa referensi baik ilmiah maupun fiksi ilmiah, sehingga tulisan ini lebih merupakan fiksi ilmiah daripada suatu hasil penelitian ilmiah yang sahih dan akurat.


Dari warnanya jelas terlihat kuning. Sebenarnya opor di Jawa terdiri dari 2 macam, opor putih dan opor kuning. Opor putih di sini lebih banyak diminati oleh kalangan emak-emak (sebutan), yaitu para wanita Tionghoa yang sudah membaur dengan kebiasaan setempat mengenakan baju kurung (bukan kebaya) dan sarung selayaknya penduduk setempat.


Penampilan unik ini hanya ada di Jawa. Inilah yang disebut emak-emak atau golongan Tionghoa babah. Sebutan Tionghoa babah adalah golongan yang sudah berasimilasi dan berbaur dengan penduduk lokal, sementara Tionghoa totok adalah golongan yang baru datang dari China dan belum berbaur.

Sementara opor kuning, biasa dimasak oleh penduduk asli dengan menambahkan kunyit, dengan alasan “luwih ayu” (lebih cantik), tidak pucat dan lebih menyehatkan badan karena kunyit sebagai penyeimbang santan. Seperti diketahui bahwa fungsi kunyit sangat baik untuk kesehatan tubuh. Makna warna kuning diasosiasikan dengan emas, yang berkonotasi kemakmuran dan kemakmuran.
Opor ayam sendiri biasanya dibuat menggunakan ayam kampug atau ayam negeri, yang pasti rasanya lebih menang ayam kampung. Tetapi itu semua tergantung selera masing-masing, bicara ayam kampung kita harusnya tau dulu asal-usul ayam asli Indonesia ini.



Sejarah Perkembangan Sejarah ayam kampung dimulai dari generasi pertama ayam kampung yaitu dari keturunan ayam hutan merah (Gallus gallus). Jenis ayam kampung sudah dikenal sejak zaman Kerajaan Kutai. Pada saat itu, ayam kampung merupakan salah satu jenis persembahan untuk kerajaan sebagai upeti dari masyarakat setempat. Keharusan menyerahkan upeti menyebabkan ayam kampung selalu diternakan oleh warga kampung dan menyebabkan ayam kampung tetap terjaga kelestariannya. Di samping itu, ayam kampung memang sesuai dengan selera masyarakat setempat. Kebiasaan beternak ayam kampung tersebutlah yang menyebabkan ayam ini mudah dijumpai di tanah air.

2. Gudeg 


Gudeg adalah masakan tradisional Jawa dari Yogyakarta dan Jawa Tengah, Indonesia. Dalam perkembangannya, masyarakat mengenal gudeg terkenal berasal dari Yogyakarta sehingga membuat kota ini dikenal dengan nama Kota Gudeg. Sejarah gudeg di Yogyakarta dimulai bersamaan dengan dibangunnya kerajaan Mataram Islam di alas Mentaok yang ada di daerah Kotagede pada sekitar tahun 1500-an. Gudeg sejatinya bukan berasal dari kerajaan tapi berasal dari masyarakat. Dikarenakan proses memasaknya yang lama, pada abad 19 belum banyak yang berjualan gudeg. Gudeg mulai populer dan banyak diperdagangkan pada tahun 1940-an saat Presiden Sukarno membangun Universitas Gajah Mada (UGM) hingga sekarang.
Gudeg terbuat dari nangka muda mentah (Jawa: gori). Direbus selama beberapa jam dengan gula aren, dan santan rempah-rempah tambahan termasuk bawang putih, bawang merah, kemiri, biji ketumbar, lengkuas, daun salam, dan daun jati, yang memberikan warna coklat kemerahan ke masakan. Dengan berbagai campuran bumbu tersebut, gudeg menjadi terasa manis dilidah dan memiliki rasa yang khas dan enak sesuai dengan selera masyarakat Jawa pada umumnya. Hal ini sering digambarkan sebagai “nangka hijau rebus yang manis”.
Disajikan apa adanya, gudeg dapat dianggap sebagai makanan vegetarian, karena hanya terdiri dari nangka mentah dan santan. Namun, gudeg umumnya disajikan dengan telur atau ayam. Gudeg disajikan dengan nasi kukus putih, ayam baik sebagai opor ayam atau ayam goreng, telur pindang, opor telur atau telur sekadar rebus, tahu dan atau tempe, dan sambel goreng krecek sup yang terbuat dari kulit sapi renyah.
Ada beberapa jenis gudeg; kering, basah, khas Yogyakarta, khas Solo dan khas Jawa Timur. Gudeg kering hanya memiliki sedikit santan sehingga memiliki sedikit saus sedangkan gudeg basah mempunyai banyak santan. Gudeg paling umum berasal dari Yogyakarta, dan biasanya lebih manis, lebih kering dan berwarna kemerahan karena penambahan daun jati sebagai pewarna. Gudeg Solo dari kota Surakarta lebih berair dan pekat, dengan banyak santan, dan berwarna keputihan karena daun jati umumnya tidak ditambahkan. Gudeg Yogyakarta biasanya disebut “gudeg merah”, sementara gudeg Solo juga disebut “gudeg putih”. Gudeg khas Jawa Timur memiliki rasa lebih pedas dan lebih panas dibandingkan dengan gudeg Yogyakarta, yang manis.
Source : 
https://makanan-indonesia.weebly.com/home/opor-ayam
https://www.njogja.co.id/wisata-kuliner/gudeg-makanan-tradisional-yang-melegenda/

LOCAL FOOD #2

1. Bakso 





Bakso merupakan makanan yang digandrungi oleh masyarakat Indonesia. Di Indonesia sendiri hampir di seluruh penjuru ada. Dan uniknya adalah makanan yang berbahan daging giling ini di setiap kota seluruh Indonesia racikannya berbeda beda. Yuk simak lebih lanjut mengenai bakso.

Definisi Bakso

Menurut KBBI, bakso adalah makanan terbuat dr daging, udang, ikan yg dicincang dan dilumatkan bersama tepung kanji dan putih telur, biasanya dibentuk bulat-bulat. Tidak jauh berbeda dengan definisi dari Wikipedia. Bakso atau baso adalah jenis bola daging yang lazim ditemukan pada masakan Indonesia. Bakso umumnya dibuat dari campuran daging sapi giling dan tepung tapioka, akan tetapi ada juga bakso yang terbuat dari daging ayam, ikan, atau udang bahkan daging kerbau. Umumnya masyarakat Indonesia memanggilnya dengan sebutan bakso, namun kebanyakan orang Sunda menyebutnya baso.

Asal Mula Bakso

Bakso menjadi terkenal di Indonesia oleh masyarakat Tionghoa Indonesia. Istilah bakso juga berasal dari kata Bak-So dalam bahasa Hokkien (Taiwan) yang artinya adalah daging giling. Dikarenakan penduduk Indonesia mayoritas adalah muslim maka kebanyakan bakso dibuat dari daging halal seperti daging ayam, sapi maupun ikan. Sekarang ini makanan lezat berbentuk bulat ini lebih banyak dijual oleh orang orang Jawa dan yang terkenal adalah berasal dari kota Malang, Solo dan Wonogiri. Ketiga kota tersebut memiliki ciri khas masing masing. Di kota Malang bakso disajikan dengan berbagai olahan pangsit dan tahu bakso, isi di dalam satu mangkok bakso Malang lebih terlihat ramai dibandingkan dengan yang lain. Berbeda dengan Wonogiri dan Solo, ciri khas dari kedua kota ini adalah aroma kaldu sapinya yang membuat orang ketagihan. Bersyukurlah karena kamu bisa menemukan bakso dengan mudahnya dari penjual keliling hingga kelas restoran. 
2. Soto 

merupakan salah satu makanan dengan varian yang banyak di Indonesia. Hampir setiap daerah di Indonesia memiliki variannya sendiri untuk makanan lezat yang satu ini, sebut saja soto Betawi, soto Kudus, soto Kudus, coto Makassar, dan masih banyak variannya yang lain.
Bahan dan bumbu yang digunakan di tiap daerah pun berbeda tergantung dengan selera warga lokal di wilayah tersebut. Namun terdapat satu hal yang menjadi benang merah antara satu jenis soto dengan yang lainnya, yaitu warna kuah yang cenderung kuning.
Pada jilid II dari karya besarnya yaitu Nusa Jawa: Silang Budaya, Denys Lombard membahas bahwa asal mula soto adalah makanan China bernama caudo atau jao to. Makanan ini pertama kali populer di wilayah Semarang sekitar abad ke-19. Namun dalam buku tersebut tidak ada penjelasan lebih lanjut mengenai salah satu makanan paling favorit bagi banyak masyarakat Indonesia.
Lebih jauh mengenai soto, terdapat sebuah penelitian yang berjudul Menyantap Soto Melacak Jao To dari Ary Budiyanto dan Intan Kusuma Wardhani yang mencoba memetakan sejarah dari makanan ini. Dikutip dari Lono Simatupang, disebutkan bahwa soto berasal dari makanan China dalam dialek Hokkian yang bernama cau do. Arti dari cau do sendiri adalah rerumputan jeroan atau jeroan berrempah.
Walaupun saat ini soto memiliki isi yang lebih bervariasi baik berupa daging maupun jeroan namun jika dilihat dari asal katanya pada masa lalu makanan ini lebih banyak berisi jeroan. Perubahan nama cau do menjadi soto sendiri disebabkan karena semakin dikenalnya makanan ini dan perubahan penyebutan kata tersebut menjadi lebih mudah dan familiar bagi banyak orang.
Soto pada awalnya mulai populer di wilayah Semarang baru kemudian tersebar pada beberapa wilayah pesisir utara pulau Jawa. Hingga saat ini memang pesisir utara memiliki beberapa varian soto yang cukup terkenal, sebut sata soto Betawi dan Cirebon yang sangat mirip dan masih banyak menggunakan jeroan, soto Lamongan, serta soto Madura asal Surabaya yang sangat tersohor itu. Suburnya soto di wilayah pesisir utara Jawa ini disebabkan juga karena banyaknya peranakan China yang tinggal di wilayah ini.
Sejak dulu hingga saat ini, makanan berkuah ini bukan lah sebuah makanan mewah yang dinikmati oleh kalangan penguasa. Makanan ini lebih banyak dinikmati oleh kalangan menengah ke bawah dengan dijajakan menggunakan pikulan pada masa lalu. Seiring perkembangan waktu, pikulan tadi berubah menjadi gerobak. Aksesori serupa gerobak atau pikulan ini hingga saat ini pun biasanya masih digunakan oleh beberapa warung soto.
Walaupun pada mulanya dianggap merupakan perkembangan dari sup jeroan dari China tetapi melihat perubahan soto saat ini terutama perkembangan variannya pada banyak daerah, makanan ini telah benar-benar diambil dan disesuaikan dengan lidah masing-masing daerah.
Penggunaan santan, koyah, tauge, bihun, bawang goreng, kentang, dan beragam bahan lainnya merupakan hal yang berbeda-beda di tiap daerah tergantung dengan selera lokal. Perbedaan ini lah yang justru menjadikan makanan ini menjadi sangat disukai oleh banyak kalangan di seluruh Indonesia.
source : 

LOCAL FOOD #1


1. Rawon

Hasil gambar untuk rawon pengertian

Apakah Rawon itu?

Rawon adalah makanan tradisional dari Jawa Timur berupa sup daging dengan kuah yang berwarna hitam. Warna hitam dari kuah Rawon ini terbuat dari kluwak dan dimasak dengan bumbu khusus sehingga menghasilkan aroma dan rasa yang khas sehingga sangat menggugah selera. Rawon ini merupakan salah satu makanan tradisional yang terkenal dan menjadi salah satu icon kuliner di Jawa Timur.

Proses Pembuatan Rawon

Daging yang digunakan pada masakan Rawon ini umumnya adalah daging sapi. Daging tersebut pertama direbus dan dipotong kecil – kecil. Untuk bumbu yang dihaluskan diantaranya seperti bawang merah, bawang putih, lengkuas, ketumbar, kluwak, kunir dan lain – lain. Untuk penyedap rasa ditambahkan serai, daun jeruk dan lengkuas. Bumbu tersebut kemudian di tumis hingga harum. Kemudian setelah harum, bumbu tersebut dicampurkan dan dimasak bersama dengan kaldu dan potongan daging hingga matang.

Penyajian Rawon

Rawon ini biasanya disajikan bersama nasi hangat dan dilengkapi dengan tauge kecil yang sudah direbus terlebih dahulu. Untuk penambah rasa kita bisa menambahkan seperti daun bawang, sambal, dan jeruk nipis sesuai dengan selera kita. Rawon ini sangat pas bila santap selagi hangat bersama menu lain seperti kerupuk udang, telur asin, dan daging sapi goreng atau empal.

Cita Rasa Rawon

Rawon ini memiliki cita rasa yang sangat khas dengan aroma dan rasa yang tentunya sangat menggugah selera. Selain dagingnya yang empuk, perpaduan rasa manis, gurih dan legit pada kuahnya yang hitam memiliki rasa yang pas dengan lidah kita. Selain itu, yang menjadi keistimewaan dari Rawon ini adalah rasa yang dihasilkan dari kluwak ini memberikan aroma kuat dan sensasi ras[a yang khas pada makanan tradisional satu ini.

Perkembangan Rawon di Indonesia

Rawon merupakan salah satu makanan tradisional yang sangat terkenal di Jawa Timur. Makanan ini sangat mudah kita temukan di berbagai daerah di Jawa Timur, salah satunya di Surabaya. Di Surabaya sendiri, Rawon merupakan makanan yang sangat populer dan bayak warung makan yang menyediakan menu satu ini. Perkembangan Rawon tidak hanya disekitar Jawa Timur saja, makanan ini juga telah tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Hal ini karena banyaknya perantau dari Jawa Timur ke luar daerah yang mencoba menjadikan Rawon sebagai bisnis mereka dan sebagai obat rindu akan kampung halaman mereka. Bagi anda yang berkunjung ke Jawa Timur, makanan ini wajib untuk dicoba dan tentu kurang lengkap rasanya bila belum menikmati makanan tradisional satu ini.

2. Sate


Sate adalah makanan yang dibuat dengan potongan daging kecil (ayam, sapi, kambing, kelinci, dan sebagainya) lalu ditusuk sedemikian rupa menggunakan potongan lidi atau bambu lalu di panggang diatas bara kayu. Sate disajikan dengan unik dan memiliki banyak varian.
Karena kepopulerannya, sate yang merupakan kuliner yang berasal dari pulau jawa ini dapat ditemukan dimana saja di berbagai belahan daerah di indonesia dan telah dianggap oleh seluruh dunia sebagai makanan nasional khas indonesia.
Karena keunikan dan kepopulerannya, Sate ternyata juga terkenal di berbagai bagian di negara-negara di asia tenggara, seperi Kamboja, Malaysia, Filiphina, Thailand, Singapura dan bahkan sampai ke negara australia dan juga sampai ke belanda, karena sate telah ada sejak jaman penjajahan dulu, jangan-jangan jepang juga ya? siapa yang tahu.
Dan lagi keaneka ragaman suku dan banyaknya tradisi-tradisi yang berpengaruh pada masakan di indonesia membawakan dampak pada sate itu sendiri, karena itu menjadikan sate memiliki banyak variasi dan jenis, mulai dari cara memasak hingga bahan utama masakan satenya.
Di Indonesia, sate dapat di jumpai di sekitar pedagang kaki lima, toko/warung di tepi jalan bahkan restoran kelas atas sekalipun menyajikan sate. Adapula yang menjualnya dengan cara berkeliling.
Resep pembuatan sate tergantung variasi dan jenis bahan yang digunakan, biasanya di indonesia yang terkenal adalah sate sambal kacang, yaitu sate dengan menggunakan daging ayam atau kambing lalu di lumuri dengan sambal kacang, namun kembali lagi beda daerah beda lagi jenis sate yang dimasak.
Mayoritas di indonesia biasanya sate selalu di sertai dengan sambal atau saus. Saus atau sambal ini bisa berupa bumbu kacang, atau sebagainya, bisa disertai acar, timun, irisan cabe rawit.
Source :